Tulisan gue yang satu ini akan sedikit lebih serius dan terinspirasi dari pengalaman Jainul. Kali ini akan menceritakan apa yang Jainul rasakan saat dia kuliah. Kehidupan Jainul di kampus sebenarnya nggak seindah yang ada di imajinasi otaknya waktu masih duduk dibangku SMA. Disini lah terkadang dia merasa masa kuliah itu adalah masa yang paling garing selama 15 tahun dia menimba ilmu. Kenapa Jainul bilang masa yang paling garing? Karna disini lah Jainul nggak bisa lagi bertingkah segila waktu dia duduk dibangku SMA. Waktu dia SMA nggak ada yang bisa mengkontrol kegilaan Jainul. Sekolah merupakan taman bermain buat dia dan para guru pun sudah enggan untuk menghentikan sifatnya bahkan tidak ada guru yang mau mengajar di kelas yang Jainul tempati. Kebiasaan Jainul di sekolah adalah ngintipin cewek atau cowok yang kencing di toilet, entah lah mungkin Jainul mempunyai penyakit disorientasi seksual. Selain itu Jainul suka ngintipin rok anak-anak cewek pake kaca rautan yang dia beli di tukang mainan depan sekolah. Terkadang kalau dia bosan ngintipin rok anak-anak cewek, sesekali untuk mengusir rasa bosannya dia juga ngintipin celana anak laki-laki. Walau pun begitu tetapi Jainul merupakan pemuda yang mempunyai ideologi “solidaritas tanpa batas” kepada teman-temannya. Dia selalu membantu teman-temannya dengan tulus apabila ada yang sedang kesusahan dengan cara berdoa saja. Tetapi sifat "solidaritas tanpa batas" Jainul terhapus semenjak dia kuliah, karna disini lah Jainul harus dituntut untuk lebih individu, pada masa ini lah Jainul dituntut untuk bisa memilih mana teman dan mana yang hanya “sekedar” jadi teman dan disini lah slogan “Teman adalah musuh yang tak terduga untuk kita” akan benar-benar berfungsi kata Jainul. Disini Jainul bisa ngerasain mana teman yang hanya akan datang disaat kalian senang dan mana teman yang membantu dia untuk bangun dan bangkit saat Jainul terjatuh. Ditahap ini lah dia ngerasain dimana pada satu masa Jainul saling melindungi antar satu sama lain dan pada masa yang lain kalian akan saling menusuk dan melukai teman kalian. Tetapi pada masa ini lah kedewasaan Jainul bertumbuh dan merubah seluruh sifatnya, terciptanya tanggungjawab yang lebih kepada orang tua, dan tanggungjawab kepada diri sendiri untuk pada masanya harus sanggup berdiri di atas kaki sendiri tanpa bantuan orang tua lagi. Pada masa ini juga Jainul dituntut untuk keluar dari comfort zone-nya dan mengembangkan diri sekembang-kembangnya, kalo perlu pake baking powder. Dan menurut Jainul juga, pada part ini lah terkadang kita harus menutup kuping dengan cibiran atau kritikan yang bertujuan untuk menghancurkan dan terus berjalan dengan mengikuti kata hati untuk mengejar mimpi-mimpi yang telah kita susun rapih. Yang selalu Jainul ingat untuk menguatkan kakinya melangkah adalah “Nggak semua orang dapat dia buat senang dan nggak semua orang menyenangi Jainul”. Pada kesempatan kali ini Jainul juga berpesan, rajin-rajin lah menabung di celengan, karna celengan yang berisi recehan itu akan sangat membantu ketika lagi nggak punya duit buat makan di warteg. Dan juga melatih keterampilan kita menggunakan pingset pencabut bulu ketek untuk mencongkel-congkel celengan itu.
Salam dari Jainul.







